![]() |
| Agus Prasetio, sosok inspiratif yang mengabdikan diri sebagai guru difabel. |
![]() |
| Dengan kondisi gangguan penglihatan total, Prasetio tak gencar untuk memberikan setitik ilmu pada peserta didik. Walau harus menitih langkah kakinya pada 3 lantai bangunan dengan tangga, Prasetio tak menyulutkan api juang yang dimiliki. |
![]() |
Melawan segala rasa malas dan keterbatasan, Prasetio mampu menunjukkan kemampuan bermusiknya secara otodidak. Gitar menjadi salah satu teman setianya di kala waktu kosong. |
![]() |
| Tidak hanya bermain musik, Prasetio juga pandai bernyanyi. Baginya, bernyanyi adalah cara untuk mengekspresikan emosi yang Prasetio miliki lewat nada. |
![]() |
| Sebagai penggemar musik, Prasetio melakukan segalanya tanpa uluran tangan orang lain. Selagi bisa, Prasetio tidak meminta bantuan orang lain karena ini juga wujud kesetaraan yang dirinya perjuangkan. |
![]() |
| Keterbatasan tidak menghilangkan kesempatan seperti halnya Agus Prasetio yang memanfaatkan teknologi dengan fitur dan aplikasi untuk membantu aksesibilitas sehari-hari. |






