Kamis, 22 Mei 2025

Potret Agus Prasetio, Seorang Guru Difabel Berjuta Cita


Agus Prasetio, sosok inspiratif yang mengabdikan diri sebagai guru difabel.

    Ini adalah keseharian Agus Prasetio atau yang akrab disapa Prasetio sebagai guru bagi murid difabel di SLB PRI, Buaran, Pekalongan.  Kegigihan dan tekad yang Prasetio miliki menjadikan dirinya sebagai sosok inspiratif yang selalu memperjuangkan kesetaraan. Bagi Prasetio, kesetaraan adalah segalanya, mulai dari mengenyam pendidikan yang layak, melatih keterampilan hidup, juga menjadi makhluk sosial sebagaimana mestinya.



Dengan kondisi gangguan penglihatan total, Prasetio tak gencar untuk memberikan setitik ilmu pada peserta didik. Walau harus menitih langkah kakinya pada 3 lantai bangunan dengan tangga, Prasetio tak menyulutkan api juang yang dimiliki.

    
    Melawan segala rasa malas dan keterbatasan, Prasetio mampu menunjukkan kemampuan bermusiknya secara otodidak. Gitar menjadi salah satu teman setianya di kala waktu kosong.


    Tidak hanya bermain musik, Prasetio juga pandai bernyanyi. Baginya, bernyanyi adalah cara untuk mengekspresikan emosi yang Prasetio miliki lewat nada.


    Sebagai penggemar musik, Prasetio melakukan segalanya tanpa uluran tangan orang lain. Selagi bisa, Prasetio tidak meminta bantuan orang lain karena ini juga wujud kesetaraan yang dirinya perjuangkan.

    Keterbatasan tidak menghilangkan kesempatan seperti halnya Agus Prasetio yang memanfaatkan teknologi dengan fitur dan aplikasi untuk membantu aksesibilitas sehari-hari.







 

Minggu, 06 April 2025

Momen Berbagi dan Semarak Ramadhan 1446 Hijriyah

 



Kue Lebaran : Mengenang masa kecil melalui gigitan manis yang membawa diri ke masa lampau.

Kenangan masa kecil, dapat dikenang ketika mulai melayangkan gigitan pada setitik kue yang sudah tertata rapih di sasana meja ruang tamu rumah nenek. Segala momen manis terabadikan dengan hangatnya hari Lebaran dan terekam bersama keluarga yang terikat dalam kuatnya menguat tali kebersamaan dan persaudaraan.

Mudik Lebaran 2025 

Lebaran tahun ini rasanya tak ada yang beda seperti tahun-tahun sebelumnya, pemudik antusias untuk kembali ke pangkuan kampung halaman. Suasana hangatnya hari raya, terasa erat ketika keluarga berkumpul. Momen sanak keluarga saat menuju rumah juga menjadi hal yang menggembirakan. Memasang kalimat-kalimat ikonik, sebagai penenang dan penghibur pemudik lain yang membaca.




Tawa bahagia dua insan dalam dua sudut pandang. 

Berbagi terhadap sesama adalah hal mulia, kegiatan ini diupayakan untuk menjadi kegiatan positif yang dilakukan oleh Forum Generasi Berencana Kabupaten Batang, pada Sabtu, 29 Maret 2025 bertempat di Jl.Yos Sudarso, Batang.

Kegiatan ini dilakukan secara rutin tiap tahunnya, dengan membagikan takjil pada masyarakt sekitar wilayah Kabupaten Batang. Takjil merupakan bentuk kecil kebahagiaan yang dibagikan oleh pengurus, untuk sekedar berbagi tawa dan keberkahan.


Semarak Ramadhan melalui Budaya Koprekan

Batik TV kembali membangunkan semarak Ramadhan 1446 H melalui kontes koprekan yang ditujukan untuk masyarakat Kota Pekalongan dan sekitarnya. Dengan kreativitas, semangat dan performe terbaiknya, mampu menjadikan mereka yang terbaik dan mendapatkan kesempatan untuk tampil didepan umum. Semarak ini perlu dibudayakan dan dilestarikan untuk menjaga keharmonisan ditengah globalnya masyarakat kini.

Jumat, 28 Februari 2025

Menggapai Mimpi Melalui Fotografi, The Photograph of Mauthausen

     Sebuah film dengan latar belakang penjajahan pada tahun 1936-1939 yang kala itu bangsa Spanyol oleh Nazi (German) mengisahkan seorang tentara Spanyol yang berjuang memperjuangkan hak kaum mereka. Film ini di angkat dari sebuah kisah nyata, dan mengedepankan sisi perjuangan, kesatuan, dan integritas. Banyak dari adegan film yang menampilkan sisi kejam dari seorang penjajah, dengan beberapa sajian kekerasan, pelecehan, hingga ha-hal yang sangat menggambarkan kekejaman Nazi pada Spanyol di masa itu. Di perankan oleh Mario Casas sebagai seorang tentara Spanyol yang gemar untuk mengabadikan momen melalui kamera yang ia pinjam dari seorang Tentara Belanda yang ia kenal sebagai mentor dalam mengembangkan bakatnya sebagai seorang fotografer. Mario Casas yang berperan sebagai Francoise Boix memiliki karakter yang berani dan tangguh. Ia memimpin pasukan tentara sandraan Nazi guna mengatur strategi bagaimana mereka akan lolos dari kekejaman yang Nazi lakukan terhadap mereka. 

Poster Film The Photograph of Mauthausen


Film ini menarik karena memilih sajian dokumenter penjajahan yang kemudian  memunculkan sikap emosional penonton yang muncul secara reflek, sesaat setelah melihat beberapa scene yang memperlihatkan adegan kekerasan juga kesedihan mendalam. Pesan tersurat yang muncul dalam setiap sorot mata, tutur kata aktor benar-benar dirangkum dalam satu sajian film yang ciamik. Dipadukan dengan kontras warna biru, ini mengantarkan pesan secara langsung pada penonton, jika situasi yang pemain lakukan sangat mencekam, dingin dan sadis. Namun diluar nilai estetika yang ditampilkan dalam segi editing dan pemilihan tone warna , sudut pandang penonton yang difokuskan pada tentara sebagai objek penjajahan, membuat rasa simpati dan nasionalisme sangat terasa kental dan dalam.

Film yang mengangkat tema fotografi ini juga menantang adrenalin, dimana setiap moment sang pemeran utama yakni Fran dan juga rekan se-bangsanya mencoba untuk melarikan diri. Aksi yang dilakukan oleh Tentara Nazi sungguh memberikan kesengsaraan, tawanan Spanyol di bunuh dengan cara sadis dan tidak memikirkan asas kemanusiaan. Alasan setiap scene yang di tampilkan juga memiliki makna yang membekas dalam memori. Moment dimana akhirnya Fran di percayai untuk dapat mengabadikan moment Nazi yang kejam, seakan membuka mata Fran atas segala perlakuan kotor yang di lakukan Nazi pada bangsanya.. Franz yang namanya diangkat oleh Paul, yakni salah satu golongan Nazi dengan hati yang baik, membawa Fran semakin dikenal dan dipercaya oleh golongan Nazism untuk dapat mengabadikan moment terbaiknya. Fran  memanfaatkan momen ini untuk terus memperdalam skill foto yang ia miliki dengan bermodalkan kamera dari Paul

     Scene yang membuat bangga adalah ketika Fran akhirnya di panggil oleh kepala pasukan Nazi, yang percaya akan kemampuanya dalam mengabadikan momen. Fran di percayai olehnya untuk mengabadikan momen terbaik dengan keluarganya dalam perayaan ulang tahun anak mereka. Bermodalkan kamera pinjaman Paul, Fran di berikan petuah untuk hati-hati terhadapnya, karena ia adalah salah satu yang terkejam. Disana, ia bertemu dengan tahanan anak yang sempat menceritakan kisahnya, kenapa berakhir menjadi tahanan Nazi. Yang saat Itu ia menceritakan jika ia harus terpisah dengan sang Ayah. Karena ingin melindungi bangsanya, Fran selalu meningkatkan kepercayaan oleh Nazis padanya, untuk membantu anak ini. Titik dimana ketika Fran akhirnya menyadari dan merasa jika ia di bodohi oleh pasukan Nazi, karena Fran telah menemukan ayah dari anak yang ia kenalsudah tewas di bunuh. Tekad kuat Fran di dukung penuh oleh semua bangsa Spanyol. Mereka secara diam-diam membangun koalisi untuk mendapatkan rencana terbaik untuk melarikan diri. Rencana demi-rencana gagal dan berakhir terbunuh.

Karena kedekatannya dengan tentara Nazi, Fran sering untuk diajak dan mengabadikan beberapa kejadian keji yang dilakukan oleh mereka. Fran di percaya karena ia berada pada bawah naungan Paul. Ketika sudah bekerja untuk mengabadikan momen, ia dan Paul akan pergi ke ruang gelap, yang digunakan untuk mencuci foto negatif mereka. Hingga akhirnya, Fran menemukan satu dokumentasi lengkap kekejaman Nazi terhadap Spanyol yang tersimpan rapih dalam album berupa foto negatif. Atas kepiawaiannya dalam dunia fotografi, ia yang mengetahui saat menerawang foto itu, langsung memantapkan niatnya untuk melarikan diri bersam tawanan lainnya, ia menyimpan dokumen tersebut dan menjaganya. Bermodalkan hal ini, ia menyampaikannya pada rekan tawanannya, dan mulai merancang strategi yang mantap. Agar mereka bisa melarikan diri tanpa harus terbunuh. Ia menyusun strategi untuk menyebar beberapa lembar foto pada setiap tawanan agar aman.

Sayang seribu sayang, karena pada saat strelisisasi tempat, foto negatif yang Fran simpan ditemukan oleh tentara Nazi. Yang akhirnya Fran ditahan dalam sel untuk sementara waktu. Tentara Nazi yang menyadari jika Fran telah mencuri dokumen itu, dengan sigap menginterograsi nya dengan tujuan akan membakar dokumen tersebut. Tentara Nazis berniat membakarnya karena German telah kalah oleh Uni Soviet, yang membuat mereka takut dihukum jika mereka juga kalah akan Uni Soviet. Di tahanan sel, Fran bertemu dengan karibnya yang menyampaikan jika ia rela mati untuk bangsanya. Mendengar hal ini, Fran sedih dan merasa putus asa, karibnya juga menyampaikan jika ia bungkam sampai akhir pertahanan dan menyimpan lembar foto yang diberikan Fran. Fran menyimpannya dengan baik, dengan tekad yang kuat ia tak buka suara saat di interograsi oleh Nazi.

Hingga tiba saatnya, ketika kamp di Mauthausen di bom dan diserang oleh sekutu. Tentara Nazism kocar-kacir mengahadapi serangan sepihak ini, melihat hal ini tawanan bersikeras untuk melawan dan melarikan diri. Fran yang juga menyadari hal ini, segera ketempat ia menyimpan lembar foto negatif dan ke ruang gelap yang disana ia bertemu Paul. Alih-alih dendam dan membunuhnya, Fran hanya mengambil kamera milik Paul. Spanyol merdeka akan Nazi (German) dan Fran melajutkan tekadnya untuk melaporkan setiap dokumentasi kekejaman Nazi oleh Spanyol. Fran juga menjadi fotografer handal yang terus mengembangkan potensinya.

Nilai yang tersurat dalam film ini adalah untuk tidak putus asa untuk meraih mimpi yang kamu usahakan. Siapapun kamu, darimana asalmu tidak akan merubah mimpi yang kamu miliki selagi kamu perjuangkan. Solidaritas menjadi nilai penting apabila kamu ingin mencapai kesuksesan bersama. Kejujuran rekan satu tim, tekad yang kuat, serta komitmen akan membaw kita pada tim yang berhasil dan berjaya. Dengan film ini, generasi sekarang menjadi tahu, jika kekejaman German terekam dan terdokumentasi dengan baik yang dirangkum pada film The Photogaph of Mauthausen. Secara keseluruhan film ini di kemas dengan penuh ketelitian, mulai dari pembuatan suasana, latar belakang, pemilihan aktor, tempat, hingga tata letak kamera dan sudut pandang sukses membawa pesan yang coba disampaikan oleh Mar Targarona sebagai sutradara

Rabu, 07 Juni 2023

TRADISI PASAR TIBAN KAMPUNG KEBANYON

 



TRADISI PASAR TIBAN

KAMPUNG KEBANYON

Tradisi Pasar Tiban yang berasal dari kata “Tiban” atau  ketiban  yang memiliki arti “kejatuhan” dalam bahasa jawa, berartikan sebuah pasar yang hadir hanya dalam waktu yang singkat atau sekejap. Tradisi ini masih rutin di adakan di beberapa desa di Kabupaten Batang, khususnya di Desa Kebanyon, RT05/04, Kasepuhan, Batang. Munculnya pasar tiban ini awalnya adalah guna memudahkan warga sekitar agar tidak perlu keluar jauh menyebrang pantura disaat akhir pekan, cukup hanya keluar gang saja dan tradisi ini lah yang menjadi ke unikan di Desa Kebanyon.

Pasar tiban ini diadakan setiap minggu pagi, dan dimulai pukul 06.00-12.00.“ Pasar tiban ini sudah lama sekali menjadi tradisi di sini, biasanya para pedagang itu mulai kesini sekitar jam 06.00 pagi – 11.00 siang mas.” ujar Darwoto selaku Ketua RT.  Pedagang yang berjualan di Pasar Tiban ini tidak hanya berasal dari dalam desa, namun mereka yang berasal dari luar, juga berdatangan untuk berjualan di sini. Antusiasme yang di timbulkan oleh masyarakat sekitar juga memberikan dampak positif, tentunya ini juga merupakan salah satu kunci mengapa tradisi ini masih berjalan hingga sekarang.

Hal ini tentunya menjadi ciri khas tersendiri bagi Desa Kebanyon, dimana biasanya Pasar Tiban dilakukan pada malam hari, namun beda hal nya dengan apa yang terjadi disini, justru terjadi pada pagi hari. Pada daerah sekitar sini juga banyak yang mencoba melakukan tradisi pasar tiban di minggu pagi, namun tidak bertahan lama , seperti halnya disini. Menurut parekmah “Kalau kaya gini itu memang sudah dari dulu mas, dan terjadi secara turun-menurun hingga sekarang.” Sebagai warga di desa kebanyon.

Banyak sekali bentuk ragam yang di perjual belikan di sini, mulai dari makanan, minuman, peralatan rumah tangga, hiburan, mainan anak, hingga pakaian. Ragam jenis yang di jual disini juga tergolong murah dan ramah di kantong masyarakat. Apa yang di jual disini juga masih terdapat beberapa hal yang merupakan jajanan jaman dulu, seperti putu mayang,klepon,kluban dan permen yang terbuat dari gula yang di panaskan. Ini juga yang menjadi nilai tambah tradisi Pasar Tiban ini.

Para penjual berjejer se panjang Jalan S.Parman yang kurang lebih sepanjang 500meter. Hal ini membuat jalanan macet tentunya, sehingga warga berinisiatif untuk membuat lahan parkir bagi para pengunjung, seringkali jika ada mobil yang memaksakan untuk lewat jalan tersebut pasti akan terjadi kemacetan yang lumayan lama. “Tapi macet itu biasanya yg bikin pasar tiban itu hidup mas,karena emang kan identiknya sama keramean ya, kalau sepi biasanya malah jadi pertanyaan.” Ujar Risva sebagai pengunjung. Setelah lewat  jam 12 siang, para pekerja pembersih sampah biasanya sudah hadir untuk membersihkan sekitar lokasi yang digunakan untuk berjualan, sehingga sampah tetap dibersihkan dan lingkungan tetap terjaga.

Begitulah keunikan dari tradisi pasar tiban yang terjadi di Desa Kebanyon, terganya tradisi ini hingga sekarang tentunya bukan sekedar usaha dari warga sekitar, namun juga dari berbagai pihak. Baik dari perangkat desa, tokoh masyarakat dan tentunya warga sekitar juga wisatawan yang berdatangan.

 

 


 


TRADISI PASAR TIBAN

KAMPUNG KEBANYON

Tradisi Pasar Tiban yang berasal dari kata “Tiban” atau  ketiban  yang memiliki arti “kejatuhan” dalam bahasa jawa, berartikan sebuah pasar yang hadir hanya dalam waktu yang singkat atau sekejap. Tradisi ini masih rutin di adakan di beberapa desa di Kabupaten Batang, khususnya di Desa Kebanyon, RT05/04, Kasepuhan, Batang. Munculnya pasar tiban ini awalnya adalah guna memudahkan warga sekitar agar tidak perlu keluar jauh menyebrang pantura disaat akhir pekan, cukup hanya keluar gang saja dan tradisi ini lah yang menjadi ke unikan di Desa Kebanyon.

Pasar tiban ini diadakan setiap minggu pagi, dan dimulai pukul 06.00-12.00.“ Pasar tiban ini sudah lama sekali menjadi tradisi di sini, biasanya para pedagang itu mulai kesini sekitar jam 06.00 pagi – 11.00 siang mas.” ujar Darwoto selaku Ketua RT.  Pedagang yang berjualan di Pasar Tiban ini tidak hanya berasal dari dalam desa, namun mereka yang berasal dari luar, juga berdatangan untuk berjualan di sini. Antusiasme yang di timbulkan oleh masyarakat sekitar juga memberikan dampak positif, tentunya ini juga merupakan salah satu kunci mengapa tradisi ini masih berjalan hingga sekarang.

Hal ini tentunya menjadi ciri khas tersendiri bagi Desa Kebanyon, dimana biasanya Pasar Tiban dilakukan pada malam hari, namun beda hal nya dengan apa yang terjadi disini, justru terjadi pada pagi hari. Pada daerah sekitar sini juga banyak yang mencoba melakukan tradisi pasar tiban di minggu pagi, namun tidak bertahan lama , seperti halnya disini. Menurut parekmah “Kalau kaya gini itu memang sudah dari dulu mas, dan terjadi secara turun-menurun hingga sekarang.” Sebagai warga di desa kebanyon.

Banyak sekali bentuk ragam yang di perjual belikan di sini, mulai dari makanan, minuman, peralatan rumah tangga, hiburan, mainan anak, hingga pakaian. Ragam jenis yang di jual disini juga tergolong murah dan ramah di kantong masyarakat. Apa yang di jual disini juga masih terdapat beberapa hal yang merupakan jajanan jaman dulu, seperti putu mayang,klepon,kluban dan permen yang terbuat dari gula yang di panaskan. Ini juga yang menjadi nilai tambah tradisi Pasar Tiban ini.

Para penjual berjejer se panjang Jalan S.Parman yang kurang lebih sepanjang 500meter. Hal ini membuat jalanan macet tentunya, sehingga warga berinisiatif untuk membuat lahan parkir bagi para pengunjung, seringkali jika ada mobil yang memaksakan untuk lewat jalan tersebut pasti akan terjadi kemacetan yang lumayan lama. “Tapi macet itu biasanya yg bikin pasar tiban itu hidup mas,karena emang kan identiknya sama keramean ya, kalau sepi biasanya malah jadi pertanyaan.” Ujar Risva sebagai pengunjung. Setelah lewat  jam 12 siang, para pekerja pembersih sampah biasanya sudah hadir untuk membersihkan sekitar lokasi yang digunakan untuk berjualan, sehingga sampah tetap dibersihkan dan lingkungan tetap terjaga.

Begitulah keunikan dari tradisi pasar tiban yang terjadi di Desa Kebanyon, terganya tradisi ini hingga sekarang tentunya bukan sekedar usaha dari warga sekitar, namun juga dari berbagai pihak. Baik dari perangkat desa, tokoh masyarakat dan tentunya warga sekitar juga wisatawan yang berdatangan.

 

 

Potret Agus Prasetio, Seorang Guru Difabel Berjuta Cita

Agus Prasetio, sosok inspiratif yang mengabdikan diri sebagai guru difabel.      Ini adalah keseharian Agus Prasetio atau yang akrab disapa ...