TRADISI PASAR TIBAN
KAMPUNG KEBANYON
Tradisi Pasar
Tiban yang berasal dari kata “Tiban” atau
ketiban yang memiliki arti “kejatuhan” dalam bahasa
jawa, berartikan sebuah pasar yang hadir hanya dalam waktu yang singkat atau
sekejap. Tradisi ini masih rutin di adakan di beberapa desa di Kabupaten
Batang, khususnya di Desa Kebanyon, RT05/04, Kasepuhan, Batang. Munculnya pasar
tiban ini awalnya adalah guna memudahkan warga sekitar agar tidak perlu keluar
jauh menyebrang pantura disaat akhir pekan, cukup hanya keluar gang saja dan
tradisi ini lah yang menjadi ke unikan di Desa Kebanyon.
Pasar tiban ini
diadakan setiap minggu pagi, dan dimulai pukul 06.00-12.00.“ Pasar tiban ini sudah lama sekali menjadi
tradisi di sini, biasanya para pedagang itu mulai kesini sekitar jam 06.00 pagi
– 11.00 siang mas.” ujar Darwoto selaku Ketua RT. Pedagang yang berjualan di Pasar Tiban ini
tidak hanya berasal dari dalam desa, namun mereka yang berasal dari luar, juga
berdatangan untuk berjualan di sini. Antusiasme yang di timbulkan oleh
masyarakat sekitar juga memberikan dampak positif, tentunya ini juga merupakan
salah satu kunci mengapa tradisi ini masih berjalan hingga sekarang.
Hal ini tentunya
menjadi ciri khas tersendiri bagi Desa Kebanyon, dimana biasanya Pasar Tiban dilakukan
pada malam hari, namun beda hal nya dengan apa yang terjadi disini, justru
terjadi pada pagi hari. Pada daerah sekitar sini juga banyak yang mencoba
melakukan tradisi pasar tiban di minggu pagi, namun tidak bertahan lama ,
seperti halnya disini. Menurut parekmah “Kalau
kaya gini itu memang sudah dari dulu mas, dan terjadi secara turun-menurun
hingga sekarang.” Sebagai warga di desa kebanyon.
Banyak sekali
bentuk ragam yang di perjual belikan di sini, mulai dari makanan, minuman,
peralatan rumah tangga, hiburan, mainan anak, hingga pakaian. Ragam jenis yang
di jual disini juga tergolong murah dan ramah di kantong masyarakat. Apa yang
di jual disini juga masih terdapat beberapa hal yang merupakan jajanan jaman
dulu, seperti putu mayang,klepon,kluban dan permen yang terbuat dari gula yang
di panaskan. Ini juga yang menjadi nilai tambah tradisi Pasar Tiban ini.
Para penjual
berjejer se panjang Jalan S.Parman yang kurang lebih sepanjang 500meter. Hal
ini membuat jalanan macet tentunya, sehingga warga berinisiatif untuk membuat
lahan parkir bagi para pengunjung, seringkali jika ada mobil yang memaksakan
untuk lewat jalan tersebut pasti akan terjadi kemacetan yang lumayan lama. “Tapi macet itu biasanya yg bikin pasar
tiban itu hidup mas,karena emang kan identiknya sama keramean ya, kalau sepi
biasanya malah jadi pertanyaan.” Ujar Risva sebagai pengunjung. Setelah lewat jam 12 siang, para pekerja pembersih sampah
biasanya sudah hadir untuk membersihkan sekitar lokasi yang digunakan untuk berjualan,
sehingga sampah tetap dibersihkan dan lingkungan tetap terjaga.
Begitulah keunikan dari tradisi pasar tiban yang terjadi di Desa
Kebanyon, terganya tradisi ini hingga sekarang tentunya bukan sekedar usaha
dari warga sekitar, namun juga dari berbagai pihak. Baik dari perangkat desa,
tokoh masyarakat dan tentunya warga sekitar juga wisatawan yang berdatangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar