Rabu, 07 Juni 2023

 


TRADISI PASAR TIBAN

KAMPUNG KEBANYON

Tradisi Pasar Tiban yang berasal dari kata “Tiban” atau  ketiban  yang memiliki arti “kejatuhan” dalam bahasa jawa, berartikan sebuah pasar yang hadir hanya dalam waktu yang singkat atau sekejap. Tradisi ini masih rutin di adakan di beberapa desa di Kabupaten Batang, khususnya di Desa Kebanyon, RT05/04, Kasepuhan, Batang. Munculnya pasar tiban ini awalnya adalah guna memudahkan warga sekitar agar tidak perlu keluar jauh menyebrang pantura disaat akhir pekan, cukup hanya keluar gang saja dan tradisi ini lah yang menjadi ke unikan di Desa Kebanyon.

Pasar tiban ini diadakan setiap minggu pagi, dan dimulai pukul 06.00-12.00.“ Pasar tiban ini sudah lama sekali menjadi tradisi di sini, biasanya para pedagang itu mulai kesini sekitar jam 06.00 pagi – 11.00 siang mas.” ujar Darwoto selaku Ketua RT.  Pedagang yang berjualan di Pasar Tiban ini tidak hanya berasal dari dalam desa, namun mereka yang berasal dari luar, juga berdatangan untuk berjualan di sini. Antusiasme yang di timbulkan oleh masyarakat sekitar juga memberikan dampak positif, tentunya ini juga merupakan salah satu kunci mengapa tradisi ini masih berjalan hingga sekarang.

Hal ini tentunya menjadi ciri khas tersendiri bagi Desa Kebanyon, dimana biasanya Pasar Tiban dilakukan pada malam hari, namun beda hal nya dengan apa yang terjadi disini, justru terjadi pada pagi hari. Pada daerah sekitar sini juga banyak yang mencoba melakukan tradisi pasar tiban di minggu pagi, namun tidak bertahan lama , seperti halnya disini. Menurut parekmah “Kalau kaya gini itu memang sudah dari dulu mas, dan terjadi secara turun-menurun hingga sekarang.” Sebagai warga di desa kebanyon.

Banyak sekali bentuk ragam yang di perjual belikan di sini, mulai dari makanan, minuman, peralatan rumah tangga, hiburan, mainan anak, hingga pakaian. Ragam jenis yang di jual disini juga tergolong murah dan ramah di kantong masyarakat. Apa yang di jual disini juga masih terdapat beberapa hal yang merupakan jajanan jaman dulu, seperti putu mayang,klepon,kluban dan permen yang terbuat dari gula yang di panaskan. Ini juga yang menjadi nilai tambah tradisi Pasar Tiban ini.

Para penjual berjejer se panjang Jalan S.Parman yang kurang lebih sepanjang 500meter. Hal ini membuat jalanan macet tentunya, sehingga warga berinisiatif untuk membuat lahan parkir bagi para pengunjung, seringkali jika ada mobil yang memaksakan untuk lewat jalan tersebut pasti akan terjadi kemacetan yang lumayan lama. “Tapi macet itu biasanya yg bikin pasar tiban itu hidup mas,karena emang kan identiknya sama keramean ya, kalau sepi biasanya malah jadi pertanyaan.” Ujar Risva sebagai pengunjung. Setelah lewat  jam 12 siang, para pekerja pembersih sampah biasanya sudah hadir untuk membersihkan sekitar lokasi yang digunakan untuk berjualan, sehingga sampah tetap dibersihkan dan lingkungan tetap terjaga.

Begitulah keunikan dari tradisi pasar tiban yang terjadi di Desa Kebanyon, terganya tradisi ini hingga sekarang tentunya bukan sekedar usaha dari warga sekitar, namun juga dari berbagai pihak. Baik dari perangkat desa, tokoh masyarakat dan tentunya warga sekitar juga wisatawan yang berdatangan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Potret Agus Prasetio, Seorang Guru Difabel Berjuta Cita

Agus Prasetio, sosok inspiratif yang mengabdikan diri sebagai guru difabel.      Ini adalah keseharian Agus Prasetio atau yang akrab disapa ...